Yogo Prihatono

Tetap Berkreasi Dengan Apa Yang Ada

TEORI –TEORI PERKEMBANGAN MANUSIA

A. Teori Kognitif

Menurut Ratna Willis Dahar, konsep kognitif dapat di artikan sebagai suatu proses yang mementingkan cara berpikir insight, reasoning, menggunakan logika induktif dan deduktif. Dengan demikian menurut pandangan teori kognitif, manusia adalah makhluk rasional, demikianlah pandangan dasar para penganut teori ini. Berdasarkan rasionya manusia bebas memilih dan menentukan apa yang akan dia perbuat. Tingkah laku manusia semata-mata ditentukan oleh kemampuan berpikirnya. Semakin inteligen dan berpendidikan, otomatis seseorang akan semakin baik perbuatan-perbuatannya, dan secara sadar pula akan melakukan perbuatan-perbuatan untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan tersebut.

Menurut teori ini,tingkah laku tidak di gerakan oleh apa yang disebut motivasi, melainkan oleh rasio. Setiap perbuatan yang akan dilakukannya sudah dipikirkan alasan-alasannya. Oleh karena itu setiap orang sungguh-sungguh bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Disini tidak dikenal perbuatan-perbuatan yang berbeda diluar control rasio.

Pandangan di atas adalah pandangan para filsuf kuno seperti Sokrates, Plato, dan Thomas Aquinas. Bahkan pandangan ini pada masa yang silam hampir menjadi pandangan umum dikalangan masyarakat.

Didalam teori ini juga juga diletakkan pentingnya fungsi kehendak. Bahkan fungsi kehendak disejajarkan dengan fungsi berpikir dan fungsi perasaan, sejauh fungsi berpikir dapat dipertanggungjawabkan. Teori ini tidak menyadari bahwa kadang-kadang tindakan manusia itu berada diluar control rasio, sehingga sukar mempertanggungjawabkannya. Disinilah justru letak kelemahan teori ini, yaitu tidak dapat menerangkan tindakan-tindakan yang berada diluar control rasio. Apakah tindakan-tindakan semacam ini tidak termasuk dalam tingkah laku manusia? Hal ini akan terjawab bila konsep motivasi mendapat tempat dibelakang setiap tingkah laku, baik yang disadari maupun yang tidak disadari.

 

B. Teori Hedonisme

Teori ini mengatakan bahwa segala perbuatan manusia, entah itu disadari ataupun tidak disadari, entah itu timbul dari kekuatan luar ataupun kekuatan dalam, pada dasarnya mempunyai tujuan yang satu, yaitu mencari hal-hal yang menyakitkan. Meskipun orang dapat mengatakan berbagai macam alasan yang bagus, namun sebenarnya segala perbuatannya hanya mempunyai satu tujuan, yaitu mencari hal-hal yang menyenangka.

Teori ini sangat berpengaruh pada abad XVIII dan XIX. Para pendukung teori ini antara lain adalah John Locke. Teori ini mendapat banyak kritik dari para ahli psikologi, karena sangat menggantungkan diri pada pengalaman seseorang saja, sehingga sifatnya sangat subjektif. Sulit sekali dikatakan bahwa secara objektif tindakan seseorang itu selalu mencari hal-hal yang menyenangkan dan menghindari hal-hal yang menyakitkan. Mungkin saja oleh seseorang suatu tindakan dipandang mencari keenakan tetapi oleh orang lain justru dipandang sebaliknya.

Dengan kata lain, teori ini dipandang kurang ilmiah karena hanya mendasarkan diri pada pengalaman subjektif manusia. Meskipun demikian diakui pula oleh umum bahwa memang banyak tindakan kita yang sangat sesuai dengan teori hedoistis ini. Oleh karena itu tidak mengherankan jika teori ini sampai saat ini pun masih mempunyai pengaruh yang besar di dalam masyarakat.

Tahun-tahun belakangan ini teori hedonistis diberi arti baru sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, Mc.Clelland member pengertian baru dalam teori hedonistis. Adapun pokok pikirannya adalah sebagai berikut:

Semua rangsang yang terdapat di lingkungan sekitar kita pada hakikatnya menimbulkan keadaan nikmat atau keadaan sakit. Rangsang yang menimbulkan keadaan nikmat /enak menyebabkan seseorang bereaksi mendekati rangsang itu. Sebaliknya rangsang yang menimbulkan keadaan tidak enak menyebabkan reaksi menjauh. Masalah rasa enak atau tidak enak yang di alami oleh seseorang itu banyak tergantung pada adaptasi seseorang dengan rangsang yang mendahuluinya. Sebagai contoh, orang tidak akan begitu merasa terganggu dengan suara mesin yang sangat membisingkan, bila suara itu sudah biasa didengar setiap hari. Tetapi bagi orang yang belum pernah mendengarkannya, suara itu akan dirasa sangat menyakitkan.

Jika dikaitkan masalah motivasi, dapat dikatakan bahwa tindakan seseorang sangat tergantung pada antipasti /ekspektansi seseorang terhadap objek/rangsang yang dihadapinya. Antipasi yang positif terhadap rangsang akan menimbulkan reaksi mendekat, sedangkan antipasti negative terhadap suatu rangsang akan menimbulkan reaksi menjauh. Suatu objek/rangsang yang diduga akan membawa rasa nikmat/enak akan menimbulkan reaksi mendekat.

Dengan kata lain, menurut teori hedoistis yang diperbaharui ini reaksi seseorang/tingkah laku seseorang dapat dibedakan menjadi dua yaitu tingkah laku mendekati rangsang yang dirasa akan membawa keenakan dan tingkah laku menjauhi rangsang yang dirasa akan membawa rasa tidak enak. Unsur pokok motivasi adalah antipasti. Teori hedonistis ini menggunakan “affectivearousal model” yang intinya mengatakan bahwa setiap rangsang pada hakikatnya telah membawa keadaan yang menimbulkan rasa enak atau tidak enak.

C. Teori Insting

Dikatakan dalam teori ini bahwa setiap orang telah membawa “kekuatan biologis” semenjak lahirnya. Kekuatan biologis inilah yang membuat seseorang bertindak menurut cara tertentu, demikianlah dasar pemikiran teori insting. Kekuatan instingtif inilah yang seolah-olah memaksa seseorang untuk berbuat dengan cara tertentu, untuk mengadakan pendekatan kepada rangsang dengan cara tertentu.

Teori ini berkembang pesat pada waktu Darwin mencetuskan teori evolusinya. Dalam teori evolusinya Darwin mengatakan bahwa antara manusia dan binatang tidak ada perbedaan yang tajam, karena pada hakikatnya manusia merupakan hasil evolusi seperti halnya binatang, lebih-lebih binatang tingkat tinggi. Tingkah laku binatang disebut tingkah laku instingtif, karena binatang tidak mempunyai pikiran. Segala tingkah lakunya didasarkan pada kekuatan biologis yang dibawa sejak lahir. Karena manusia tidak jauh berbeda dengan binatang,maka tingkah laku manusia pun bisa disebut berdasarkan instingtif.

Teori ini sangat bertentangan dengan teori rasionalis. Kalau teori rasionalis menekankan fungsi pikiran manusia sebagai penentu tingkah laku manusia, teori instinglah menyatakan bahwa pikiran manusia pun dikuasai oleh insting, atau dengan kata lain,pikiran manusia pun dikendalikan oleh insting.

Pada umumnya para ahli psikologi dapat menerima pendapata bahwa sebagian tingkah laku manusia memang ditentukan oleh instingnya, misalnya saja tingkah laku anak yang baru saja lahir. Pada waktu anak lahir, fungsi pikiran tentu saja belum berjalan,namun anak toh berbuat sesuatu. Tingkah laku anak pada waktu itulah yang dapat dikatakan tingkah laku instingtif.

D. Teori Psikoanalitis

Teori psikoanalitis merupakan pengembangan teori insting. Dalam teori ini pun diakui adanya kekuatan bawaan didalam diri setiap manusia, dan kekuatan bawaan inilah yang menyebabkan dan mengarahkan tingkah laku manusia.Anak merasa jengkel, ia akan menggigit tangannya sendiri atau memukul kepalanya sendiri. Bukti-bukti tersebut menunjukan bahwa baik insting kehidupan maupun insting kematian telah bekerja sejak anak masih kecil.

Tingkah laku-tingkah laku yang didorong oleh kedua insting dasar tadi seringkali tidak sesuai dengan norma-norma sopan santun yang terdapat dilingkungan masyarakat. Oleh karena itu tidak jarang para orang tua memberikan larangan-larangan dan batasan-batasan terhadap beberapa tingkah laku yang sekirannya bertentangan dengan norma sopan-santun yang berlaku.

Sebagai akibat dari batasan dan larangan terhadap kebebasan berbuat atas dorongan kedua insting tersebut terbentuklah apa yang disebut kompleks terdesak, yaitu kumpulan tingkah laku yang ditekan karena tidak pantas dimunculkan. Kompleks terdesak ini tidak dapat diam begitu saja, melainkan tetap mencari kesempatan ntuk dapat muncul menjadi tingkah laku overt. Kompleks yang terdesak ini menjadi motif-motif yang tidak sadar, itulah sebabnya seringkali orang sendiri tidak dapat mengerti, mengapa ia berbuat sesuatu tindakan. Dalam hal seperti inilah kiranya motif tidak sadar sedang bekerja.

Motif-motif tidak sadar dapat menampakkan diri dalam berbagai bentuk,misalnya dalam bentuk mimpi. Pada waktu bermimpi seringkali orang merindukan sesuatu yang sebenarnya sudah dilupakan,sudah tidak disadari lagi. Motif tidak sadar dapat juga muncul dalam bentuk salah ucap (slips of speech).

Sesuatu yang kita tekan,yang tidak kita bicarakan dengan orang lain tetapi yang selalu mengganggu pikiran kita, suatu ketika dapat muncul dalam bentuk salah ucap atau salah bicara tanpa kita sadari. Kita baru sadar setelah hal itu terjadi. Ada juga beberapa symptom penyakit, terutama beberapa penyakit mental, yang kiranya disebabkan oleh adanya suatu kebutuhan dalam diri seseorang.

Freud, seseorang tokoh psikoanalitis mengatakan bahwa tingkah laku manusia ditentukan oleh kekuatan dasar yaitu:I nsting kehidupan dan insting kematian. Insting kehidupan menampakkan diri dalam tingkah laku seksual sedankan insting kematian melatarbelakangi tingkah laku-tingkah laku agresif. Insting kehidupan (Eros) mendorong orang uantuk tetap hidup dan berkembang. Sedangkan insting kematian (Thanatos) mendorong orang ke arah penghancuran diri sendiri, misalnya dalam bentuk bunuh diri, maupun penghancuran diri orang lain dalam bentuk perbuatan-perbuatan agresif.

Berdasarkan dua kekuatan dasar itu Freud membagi motif manusia menjadi dua, yaitu motif seksual dan motif menyerang. Kedua motif ini menggerakkan tingkah laku manusia sejak lahir. Misalna saja anak kecil kalau diraga pada bagian yang sensitive akan merasa senang. Juga kalau tidak dipenuhi. Kebutuhan yang mendalam dan ditekan karena merasa tidak dapat memenuhinya dapat menimbulkan suatu penyakit mental.

Pada umumnya para ahli psikologi mengaku bahwa tidak semua tingkah laku manusia itu jelas motivasinya, namun belum berani mengatakan bahwa terdapt motif yang tidak disadari. Paling-paling mereka mengatakan bahwa tingkah laku manusia yang memang kurang disadari motivasinya. Oleh karena itu kritik terhadap teori psikoanalistis ini umumnya berkisar pada keraguan bahwa mimpi, salah ucap dan lain-lain tentu sebagai akibat dari motif yang tidak disadari.

E. Teori Keseimbangan

Teori keseimbangan (Homeostatis) berpendapat bahwa tingkah laku manusia terjadi adanya ketidakseimbangan didalam diri manusia. Dengan kata lain, manusia selalu ingin mempertahankan adanya keseimbangan didalam dirinya. Sebagai contoh, orang yang lama berada dibawah terik matahari merasa panas,suhu tubuhnya naik sehingga terjadi keadaan tidak seimbang (disequilibrium) maka ia segera berjalan mencari tempat yang teduh agar suhu badan menjadi normal kembali, atau terjadi keadaan seimbang lagi. Demikian seterusnya dimana terjadi keadaan tidak seimbang didalam diri manusia, maka segeralah orang bertindak untuk mengembalikan keadaan sampai seimbang lagi.

Prinsip keseimbangan pada binatang bersifat statis, sedangkan pada manusia bersifat dinamis. Bila seekor binatang merasa lapar, yang berarti terjadi disequilibrium didalam dirinya, maka binatang tersebut segera mencari makan dan makan sampai kenyang. Sedangkan pada manusia, soalnya menjadi lain. Bila manusia lapar ia segera mencari makan. Tetapi kalau ia makan sampai kenyang, ia akan mengalami disequilibrium baru yang lebih tinggi sifatnya, misalnya lalu ingin merokok atau ingin membaca dan lain-lain.

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan, bahwa tingkah laku manusia timbul karena adanya suatu kebutuhan, dan tingkah laku manusia tersebut mengarah pada pencapain tujuan yang dapat memenuhi/memuaskan kebutuhan itu. Begitu seterusnya, sehingga dapat terjadi suatu lingkaran motivasi(motivasi circle).

KEBUTUHAN    => TINGKAH LAKU    => TUJUAN

Kebutuhan karena adanya ketidakseimbangan didalam diri individu membuat individu yang bersangkutan melakukan sesuatu tindakan, tindakan itu mengarah pada suatu tujuan, tujuan tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan yang ada. Bila kebutuhan yang pertama sudah terpenuhi, akan terjadilah keadaan tidak seimbang pada taraf yang lebih tinggi, keadaan ini menimbulkan kebutuhan baru dan seterusnya, sehingga manusia boleh dikatakan tidak pernah diam.

Kebutuhan manusia secara umum dapat dibedakan menjadi dua. Yang pertama kebutuhan biologis, yang juga biasa disebut kebutuhan primer karena kebutuhan ini mutlak diperlukan agar manusia dapat hidup. Contoh kebutuhan primer ialah makan, minum, bernafas, istirahat. Yang kedua ialah kebutuhan psikologis atau sering juga disebut kebutuhan sekunder,yaitu kebutuhan yang bila dipenuhi akan menyebabkan orang menjadi lebih bahagia hidupnya. Contoh kebutuhan sekunder ialah: kasih saying, pujian, perasaan aman, kebebasan dan lain-lain.

Menutut A.H.Maslow, kebutuhan yang harus dipenuhi agar manusia dapat berkembang dengan baik adalah sebagai berikut:

1.      Kebutuhan biologis

2.      Kebutuhan akan rasa aman

3.      Kebutuhan akan cinta kasih dan rasa memiliki

4.      Kebutuhan akan penghargaan

5.      Kebutuhan untuk tahu

6.      Kebutuhan akan keindahan

7.      Kebutuhan akan kebebasan bertindak (aktualisasi diri)

F. Teori Dorongan

Teori dorongan menekankan pada hal yang mendorong terjadinya tingkah laku. Bahkan sebenarnya teori keseimbangan dasarnya adalah teori dorongan ini, dan teori keseimbangan memperkuat kebenaran teori dorongan ini.Teori dorongan diperkenalkan oleh Robert Woodworth pada tahun 1918. Pada waktu itu Woodworth mengartikan dorongan sebagai suatu tenaga dari dalam diri kita yang menyebabkan kita berbuat sesuatu. Oleh karena itu kata motif juga diberi arti dorongan yang menimbulkan dan mengarahkan tingkah laku manusia.

Dalam arti tertentu dorongan disini mirip dengan insting, misalnya saja dorongan seksual, dorongan mencari makan karena lapar dan seterusnya. Dorongan-dorongan seperti ini sifatnya asli, tidak perlu dipelajari, instingtif. Perbedaan pokok antara dorongan dan insting sering kali memang tidak jelas, namun teori dorongan ini lebih didasari oleh eksperimen-eksperimen yang teliti dan dapat dipertanggungjawabkan. Timbulnya dorongan, bertambah kuatnya dorongan maupun berkurangnya kekuatan dorongan dapat diukur secara objektif. Misalnya saja makin kuat dorongan seseorang untuk makan dapat diketahui dari tekanan darahnya, kuatnya dorongan seksual, dapat diketahui dari jumlah hormone seksual yang beredar dalam darah dan seterusnya.

Teori dorongan ini semakin banyak diakui setelah muncul teori homeostatis(teori keseimbangan), yang diajukan oleh ahli psikologi Walter B.Cannon pada tahun 1932. Dalam konsep pemikiran tersebut dikatakan bahwa seringkali terjadi ketidakseimbangan di dalam diri manusia. Dorongan adalah salah satu usaha (otomatis) untuk dapat mengembalikan keadaan seimbang. Teori dorongan ini pada umumnya diakui kebenarannya oleh para ahli psikologi.

Februari 22, 2011 - Posted by | Ilmu Pendidikan | , , , , , ,

2 Komentar »

  1. Kok teori atribusi dan insentif g ada..?
    Cantumkan jg dong..!

    Komentar oleh Hasriani | Oktober 12, 2011 | Balas

    • maaf blm bsa nyantumin itu tp kl mw tw teori tersebut di google byk oq.selamat mencari hehehe

      Komentar oleh yogoz | Oktober 13, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: