Yogo Prihatono

Tetap Berkreasi Dengan Apa Yang Ada

Evaluasi Pembelajaran dengan Metode Uraian atau Essay

Pada umumnya tes bentuk esai (uraian) berupa pertanyaan-pertanyaan yang mengandung permasalahan, dan memerlukan pembahasan, uraian, atau penjelasan sebagai jawabannya. Ciri khas tes ini adalah siswa bebas memberikan jawabannya. Siswa bebas memilih pendekatan yang dianggap tepat dalam menyelesaikan permasalahan yang ditanyakan, menyusun dan mengorganisasikan jawabannya sendiri, serta memberikan penekanan-penekanan terhadap aspek jawaban. Oleh sebab itu tes bentuk esai memberikan peluang bagi peserta tes untuk menyatakan, melahirkan, dan mengintegrasikan ide-idenya. Yang perlu diperhatikan dalam penyusunan butir-butir soal bentuk ini adalah perumusan masalah yang dikemukakan. Rumusan tujuan hendaknya sangat jelas sehingga setiap peserta tes dapat menangkap masalah yang dikemukakan tepat seperti yang dimaksud oleh penyusun tes. Untuk maksud tersebut, dalam merumuskan tujuan biasanya digunakan kalimat-kalimat yang dapat memperjelas masalah yang dikemukakan.

Berdasarkan tingkat kebebasan jawaban yang dimungkinkan di dalam tes bentuk uraian, butir-butir dalam tes ini dapat dibedakan atas:

(a) butir-butir yang menuntut jawaban terbatas, dan

(b) butir-butir yang menuntut jawaban tak terbatas.

Butir dengan jawaban terbatas cenderung membatasi baik isi maupun bentuk jawaban. Isi jawaban dibatasi oleh ruang lingkup permasalahan, sedangkan bentuk jawaban dibatasi oleh pernyataan-pernyataan yang tercantum pada butir tes.

Keuntungan soal bentuk uraian

¨      Mudah dibuat, tidak banyak memerlukan waktu

¨      Cocok untuk mengukur kemampuan berfikir divergen

¨      Melatih kemampuan siswa dalam mengorganisir jawaban yang diberikan

Kelemahan soal bentuk uraian

¨      Tes terbatas pada sejumlah kecil pertanyaan

Bentuk soal esai tidak memungkinkan disajikannya sejumlah pertanyaan yang mencakup bahan yang luas. Panjangnya waktu yang digunakan untuk menjawab satu pertanyaan menyebabkan seseluruhan soal tes esai menjadi terbatas. Soal bentuk ini tidak dapat mengungkapkan keseluruhan bahan yang harus diketahui siswa. Apabila pertanyaan yang diajukan kebetulan mengenai hal yang dikuasai siswa ia akan berhasil, tetapi bila soal yang diajukan mengenahi hal yang kurang dikuasai atau kurang dipelajari, maka ia akan gagak. Dengan jumlah soal yang kecil, faktor untung-untungan memainkan peranan yang lebih besar.

¨      Penilaian subjektif

Penilaian terhadap hasil kerja peserta tes dipengaruhi oleh penilaian terhadap karakteristik tertentu. Misalnya kebaikan tulisan, kecakapan mengekspresikan pendapat, kerapian, dll.

¨      Penilaian tidak ajeg bahkan mungkin berbeda-beda antara seorang penilai dengan penilai lainnya

Pemakaian Soal Bentuk Esai Secara Efektif

Berkaitan dengan kemudahan dalam menyusun soal bentu esai dan keuntungan-keuntungan untuk menilai kemampuan untuk mengorganisasikan jawaban terhadap suatu pertanyaan, maka tes bentuk ini tetap dipergunakan. Jika soal bentuk esai akan digunakan, maka guru harus mengenal prinsip-prinsip tertentu sebagai pedoman.

Iklan

Desember 24, 2013 Posted by | Ilmu Pendidikan | , , , , | Tinggalkan komentar

MAJU BERSAMA MENCERDASKAN INDONESIA

Indonesia memiliki kawasan yang sangat luas, terdiri dari 5 pulau besar dan banyak sekali pulau-pulau kecil di sekelilingnya. Tak heran jika Indonesia memiliki beragam permasalahan di dalamnya, mulai dari ekonomi, sosial, kebudayaan, pendidikan, dan lain-lain. Dari berbagai permasalahan yang ada, semua bermula dari pendidikan, jika pendidikan dari jenjang PAUD sampai jenjang Kuliah sudah bagus, maka permasalahan lainnya juga akan teratasi dan bukan tidak mungkin orang-orang di Indonesia memiliki kemampuan yang tak kalah dari negara-negara maju saat ini.

Salah satu permasalahan di dunia pendidikan Indonesia saat ini adalah kurang meratanya pendidikan yang ada antara daerah perkotaan dan pedesaan terlebih pelosok/terpencil. Banyak guru (PNS/Non PNS) jika ditempatkan di daerah pedesaan atau terpencil akan berpikir 100 kali lipat untuk menerimanya, hal tersebut sangat memprihatinkan bagi dunia pendidikan karena Guru yang dulu lekat dengan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa sekarang menjadi mengharapkan banyak “tanda jasa”. Sebetulnya jika guru tersebut mengajar di daerah pedesaan akan sangat berguna sekali baik bagi murid maupun masyarakat sekitar dan guru tersebut juga bisa mengeksplore kemampuannya daripada jika mengajar di perkotaan dengan alat yang sudah modern akan membuat kreatifitas guru menjadi berkurang.

Untuk mengatasi itu semua Dinas Pendidikan Tinggi (Dikti) memberikan beberapa program diantaranya Program SM-3T, Program PPCPAK, dan Program PPGT. Program SM-3T merupakan Program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal, Program PPCPAK merupakan PROGRAM PENDIDIKAN CALON PENDIDIK AKADEMI KOMUNITAS, dan Program PPGT merupakan Program Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi Kolaboratif. Program- program tersebut ditujukan untuk para sarjana terlebih sarjana muda yang ingin ikut serta dalam program MAJU BERSAMA MENCERDASKAN INDONESIA mengabdi untuk BUMI PERTIWI INDONESIA.

info lebih lanjut bisa kunjungi http://seleksi.dikti.go.id/ atau http://www.dikti.go.id/

Desember 24, 2013 Posted by | Ilmu Pendidikan | , , , | Tinggalkan komentar

PERENCANAAN PEGAJARAN DAN TELAAH KURIKULUM

KURIKULUM

Berbicara tentang kurikulum, kurikulum pendidikan di Indonesia sudah berganti – ganti dan yang terakhir ini adalah KTSP. Di SMK KTSP ini sudah ditetapkan sejak tahun 2006 dan ditambah dengan penataan spektrum pada 2008. Apakah berpengaruh dengan adanya penataan spektrum ini?

SILABUS DAN RPP

Silabus dan RPP merupakan pekerjaan yang tidak pernah selesai bagi dunia pendidikan di Indonesia termasuk di SMK. Bagaimana kondisi dilapangan dengan teori?

MASTERY LEARNING

Apakah sudah efektif?

INTEGRASI PENDIDIKAN KARAKTER

Pendidikan karakter yang sekarang digembor – gemborkan, apakah sudah diintegrasikan ke dalam mata pelajaran?

Semua pertanyaan – pertanyaan tersebut ada dalam pembahasan berikut (tetapi tidak seutuhnya) dan bisa di download disini

Juli 14, 2011 Posted by | Ilmu Pendidikan | , , , , , , , | 2 Komentar

PERENCANAAN PROGRAM BELAJAR

PERENCANAAN PROGRAM BELAJAR

Pembelajaran sebagai suatu sistem yang bertujuan, yang harus direncanakan oleh guru berdasarkan pada kurikulum yang berlaku. Perencanaan program belajar mencakup kegiatan merumuskan tujuan pembelajaran, merumuskan isi / materi pelajaran yang harus dipelajari, merumuskan kegiatan belajar dan merumuskan sumber belajar / media pembelajaran yang akan digunakan serta merumuskan evaluasi belajar. Fungsi perencanaan program belajar adalah sebagai pedoman kegiatan guru dalam mengajar dan pedoman siswa dalam kegiatan belajar yang disusun secara sistematis dan sistemik. Perencanaan program belajar harus berdasarkan pada pendekatan sistem yang mengutamakan keterpaduan antara tujuan, materi, kegiatan belajar dan evaluasi.

Rencana pembelajaran pada hakekatnya merupakan perencanaan jangka pendek yang dilakukan oleh guru untuk dapat memperkirakan berbagai tindakan yang akan dilakukan di kelas atau di luar kelas. Perencanaan pembelajaran tersebut perlu dilakukan agar guru dapat mengkoordinasikan berbagai komponen pembelajaran yang berorientasi (berbasis) pada pembentukan kompetensi siswa, yakni kompetensi dasar, materi standar, indikator hasil belajar, dan penilaian berbasis kelas (PBK). Kompetensi dasar berfungsi untuk memberikan makna terhadap kompetensi dasar. Indikator hasil belajar berfungsi sebagai alat untuk mengukur ketercapaian kompetensi. Sedangkan PBK sebagai alat untuk mengukur pembentukan kompetensi serta menentukan tindakan yang harus dilakukan jika kompetensi standar belum tercapai.

Prinsip perencanaan pengajaran yang harus diperhatikan adalah:

  • Perencanaan pengajaran harus berdasarkan kondisi siswa.
  • Perencanaan pengajaran harus berdasarkan kurikulum yang berlaku.
  • Perencanaan harus memperhitungkan waktu yang tersedia
  • Perencanaan pengajaran harus merupakan urutan kegiatan belajar – mengajar yang sistematis.
  • Perencanaan pengajaran bila perlu lengkapi dengan lembaran kerja/tugas dan atau lembar observasi.
  • Perencanaan pengajaran harus bersifat fleksibel.

Prosedur Pengembangan Program Pembelajaran :

  • Program pengajaran di sekolah dilaksanakan dalam jangka waktu belajar tertentu. Program pengajaran yang menjadi tugas guru yaitu menyusun program pengajaran tahunan, program pengajaran semester dan program mingguan atau harian, yang disebut program persiapan mengajar.
  • Program pengajaran di sekolah harus dilakukan secara beruntut, sehingga harus dibuat pembagian jam mata pelajaran dalam artian setiap tatap muka pertama dan selanjutnya harus ada kesinambungan yang terkait. Baca lebih lanjut

April 29, 2011 Posted by | Ilmu Pendidikan | , , , , , , , , , , , | 4 Komentar

Andai Aku Menjadi Guru

ANDAI AKU MENJADI GURU

Guru adalah suatu profesi yang dahulu dianggap orang remeh dan hanya dilirik oleh segelintir orang karena identik dengan orang miskin akan tetapi sekarang guru menjadi suatu profesi yang sangat diincar banyak orang. Mengapa demikian? Ya, seperti yang banyak diketahui bahwasanya sekarang gaji guru sudah lumayan besar dengan adanya tunjangan sertifikasi. Sertifikasi merupakan predikat guru profesional yang diberikan kepada tenaga pendidik dan melipat gandakan gaji tenaga pendidik tersebut menjadi dua kali lipat. Pemerintah sendiri berharap dengan adanya tunjangan sertifikasi bisa memacu guru – guru di Indonesia agar lebih berkompeten di bidangnya. Dan cakupan luasnya jika guru di Indonesia lebih berkualitas / berkompenten dibidangnya maka untuk kedepannya pendidikan kita bisa bersaing di tingkat internasional. Syarat mendapatkan sertifikasi tidaklah mudah yaitu harus mengumpulkan portofolio (sertifikat seminar, piagam penghargaan, sertifikat diklat, dll) dan setiap isi portofolio itu ada bobot sendiri dalam penilaiannya. Apabila tidak lulus portofolio maka akan didiklat melalui PLPG selama 1 minggu. Tetapi sampai saat ini kondisi itu malah berbalik, dalam artian banyak guru yang sudah mendapatkan tunjangan setifikasi tetapi guru tersebut tidak profesional dalam menjalankan kewajibannya sebagai guru. Itu disebabkan karena dalam isi portofolio tersebut banyak terjadi manipulasi, seperti mereka memperoleh sertifikat – sertifikat yang jumlahnya ratusan, tetapi kompetensi dari serifikat itu tidak mereka dapatkan sehingga ketika tenaga pendidik akan mengimplementasikan itu kedalam proses belajar mengajar mereka akan kesulitan. Inilah yang menjadikan cerminan bahwasanya sertifikasi guru di Indonesia masih kurang efektif dengan salah satu alasan seperti disebut di atas. Saya sebagai calon guru yang sudah dididik untuk dipersiapkan sebagai guru sangat prihatin melihat kejadian seperti saat ini dan saya tidak akan melakukan kecurangan hanya dapat memperoleh predikat guru profesional.

Jika saya memang digariskan untuk berprofesi menjadi guru saya akan menjalankan profesi tersebut dengan sepenuh hati dan memberikan yang terbaik untuk bangsa dan generasi muda kedepannya. Saya menganggap menjadi guru bukanlah jabatan belaka tetapi adalah sebuah amanah. Dan amanah apabila tidak dijalankan dengan maksimal maka akan berdosa. Tidak hanya sekadar mengajar untuk menuntaskan kompetensi tetapi juga mananamkan karakter kepada siswa agar siswa yang tadinya kurang baik menjadi baik dan dapat berprestasi demikian juga dengan moralnya. Tapi itu tidaklah mudah dan memerlukan waktu yang lama, maka dari itu yang dituntut disini adalah kesabaran dan keuletan tinggi dalam melaksanakannya. Mengapa saya menginginkan demikian karena saya ingin turut menyukseskan cita – cita pendidikan Indonesia yaitu mewujudkan pendidikan berkarakter. Baca lebih lanjut

Maret 29, 2011 Posted by | Ilmu Pendidikan | | Tinggalkan komentar

TEORI –TEORI PERKEMBANGAN MANUSIA

A. Teori Kognitif

Menurut Ratna Willis Dahar, konsep kognitif dapat di artikan sebagai suatu proses yang mementingkan cara berpikir insight, reasoning, menggunakan logika induktif dan deduktif. Dengan demikian menurut pandangan teori kognitif, manusia adalah makhluk rasional, demikianlah pandangan dasar para penganut teori ini. Berdasarkan rasionya manusia bebas memilih dan menentukan apa yang akan dia perbuat. Tingkah laku manusia semata-mata ditentukan oleh kemampuan berpikirnya. Semakin inteligen dan berpendidikan, otomatis seseorang akan semakin baik perbuatan-perbuatannya, dan secara sadar pula akan melakukan perbuatan-perbuatan untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan tersebut.

Menurut teori ini,tingkah laku tidak di gerakan oleh apa yang disebut motivasi, melainkan oleh rasio. Setiap perbuatan yang akan dilakukannya sudah dipikirkan alasan-alasannya. Oleh karena itu setiap orang sungguh-sungguh bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Disini tidak dikenal perbuatan-perbuatan yang berbeda diluar control rasio.

Pandangan di atas adalah pandangan para filsuf kuno seperti Sokrates, Plato, dan Thomas Aquinas. Bahkan pandangan ini pada masa yang silam hampir menjadi pandangan umum dikalangan masyarakat.

Didalam teori ini juga juga diletakkan pentingnya fungsi kehendak. Bahkan fungsi kehendak disejajarkan dengan fungsi berpikir dan fungsi perasaan, sejauh fungsi berpikir dapat dipertanggungjawabkan. Teori ini tidak menyadari bahwa kadang-kadang tindakan manusia itu berada diluar control rasio, sehingga sukar mempertanggungjawabkannya. Disinilah justru letak kelemahan teori ini, yaitu tidak dapat menerangkan tindakan-tindakan yang berada diluar control rasio. Apakah tindakan-tindakan semacam ini tidak termasuk dalam tingkah laku manusia? Hal ini akan terjawab bila konsep motivasi mendapat tempat dibelakang setiap tingkah laku, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Baca lebih lanjut

Februari 22, 2011 Posted by | Ilmu Pendidikan | , , , , , , | 2 Komentar

KOMUNIKASI PEMBELAJARAN

KOMUNIKASI PEMBELAJARAN

A. Pengertian Komunikasi, Teknik Dan Model Komunikasi Dalam Proses Belajar Mengajar

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu. Proses belajar mengajar (PBM) merupakan suatu bentuk komunikasi yaitu komunikasi antara subyek didik dengan pendidik, antara mahasiswa dengan dosen, antara siswa dengan guru”. Di dalam komunikasi tersebut terdapat pembentukan (transform) dan pengalihan (transfer) pengetahuan, keterampilan ataupun sikap dan nilai dari komunikator (pendidik, dosen, guru) kepada komunikan (subyek didik, mahasiswa, siswa) sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

B. Unsur-unsur komunikasi menurut Harold Lasswell :
1. Komunikator (Source, Sender)
2. Pesan (Message)
3. Media (Channel)
4. Komunikan (Receiver)
5. Efek (Effect, Influence)
Pada saat ini masih banyak didapati di berbagai institusi pendidikan, pelatihan, termasuk di Perguruan tinggi, yang dalam mengajar masih konvensional. Dalam arti, pengajar (baik guru atau dosen) mengajar secara alami sesuai dengan bakat mengajar yang dimiliki. Ada juga guru/dosen yang mengajarnya cenderung meniru gaya orang yang dahulu pernah menjadi guru atau dosennya. Kenyataan diatas akan menimbulkan beberapa persoalan, baik bagi pengajar maupun peserta didik. Tipe pertama misalnya, akan menimbulkan masalah bagi dosen/guru yang tidak mempunyai bakat mengajar atau mempunyai keterbatasan dalam menyampaikan pesan secara lisan, adapun untuk tipe kedua, jika tidak hati-hati, dosen/guru cenderung akan meniru gaya orang yang diidolakannya, tanpa melihat sisi kelemahannya.
Dalam penyampaian materi perkuliahan kepada peserta didik/audien, ada beberapa factor yang perlu dipertimbangkan, diantaranya adalah peserta didik, ruangan kelas, metode dan materi itu sendiri. Untuk dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan pada suatu perkuliahan, metode pembelajaran dan komunikasi harus mendapat perhatian khusus dalam setiap proses pembelajaran. Metode pembelajaran dan komunikasi tidak selalu harus sama untuk setiap materi.
Proses belajar (learning) adalah suatu perubahan yang relatif tetap dalam persediaan tingkah laku, yang terjadi sebagai hasil pengalaman. Ini berarti, hanya dapat dikatakan terjadi proses belajar bila seseorang menunjukkan tingkah laku yang tidak sama. Jika ia dapat membuktikan pengetahuan tentang fakta-fakta baru atau ia bisa melakukan sesuatu, yang sebelumnya ia tidak dapat melakukannya. Jadi, proses belajar menempatkan seseorang dari status kemampuan atau kecakapan (ability) yang satu kepada kemampuan/kecakapan yang lain.
Pengajar yang baik seharusnya memahami karakteristik siswanya agar ia sukses dalam melaksanakan peran mengajarnya. Dalam proses belajar mengajar kemungkinan akan menemui mahasiswa yang sulit untuk melakukan kontak dengan dunia sekitarnya, suka mengasingkan diri, cenderung menutup diri. Dalam kaitan dengan hal ini, maka dosen/guru hendaknya merencanakan proses belajar mengajar yang sesuai dengan keadaan dan kepribadian mahasiswa. Belajar mengajar sebagai proses (process), pada hakikatnya mengandung tiga unsur yaitu adanya input (bahan mentah yang akan diolah), process (kegiatan mengolah input) dan output (hasil yang telah diolah). Suatu proses dipandang baik apabila kualitas output lebih baik dari pada input. Input proses belajar mengajar adalah mahasiswa sebelum perkuliahan. Proses belajar mengajar adalah interaksi antara komponen-komponen belajar mengajar yaitu tujuan, bahan, metode dosen, mahasiswa, fasilitas dan penilaian. Output dari proses belajar mengajar yaitu peserta didik (mahasiswa) setelah menerima perkuliahan.
Komunikasi merupakan suatu yang sangat pokok dalam setiap hubungan orang-orang, begitu pula dalam suatu organisasi terjadinya komunikasi tentunya ada tujuan yang ingin dicapai. Hal sesuai dengan pendapat Maman Ukas mengemukakan tujuan komunikasi sebagai berikut :
1. Menentapkan dan menyebarkan maksud dari pada suatu usaha
2. Mengembangkan rencana-rencana untuk mencapai tujuan
3. Mengorganisasikan sumber-sumber daya manusia dan sumber daya lainnya seperti efektif dan efisien
4. Memilih, mengembangkan, menilai anggota organisasi
5. Memimpin, mengarahkan, memotivasi dan menciptakan suatu iklim kerja di mana setiap orang mau memberikan kontribusi. Baca lebih lanjut

Februari 12, 2011 Posted by | Ilmu Pendidikan | , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

PERMASALAHAN PENDIDIKAN DI INDONESIA

APAKAH PENDIDIKAN DI INDONESIA SUDAH BAIK ?

Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Menyadari  akan hal tersebut, pemerintah sangat serius menangani bidang pendidikan, sebab dengan sistem pendidikan yang baik diharapkan muncul generasi penerus bangsa yang berkualitas dan mampu menyesuaikan diri untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Reformasi pendidikan merupakan respon terhadap perkembangan tuntutan global sebagai suatu upaya untuk mengadaptasikan sistem pendidikan yang mampu mengembangkan sumber daya manusia untuk memenuhi tuntutan zaman yang sedang berkembang.

Namun dalam mereformasi pendidikan masih banyak permasalahan disana – sini yang agak dilalaikan dan dianggap tidak penting. Padahal hal yang dianggap tidak penting itu bila tidak segera ditangani akan meluas dan menyebabkan semakin bobroknya pendidikan di Indonesia, maka dari itu saya akan sedikit memberikan tentang permasalahan pendidikan di Indonesia ini yang bisa menjadi referensi dan harapannya kedepan kita bisa mengatasi permasalahan pendidikan ini mulai dari diri kita sendiri.MAKALAH permasalahan pendidikan

Februari 5, 2011 Posted by | Ilmu Pendidikan | , , | Tinggalkan komentar

KONSEP SIKAP DAN PERILAKU EMPATI

KONSEP SIKAP DAN PERILAKU EMPATI

Profesional merupakan sesuatu hal yang ada didalam diri di implementasikan secara totalitas, menekankan pada prinsip minat, bakat, menjiwai dan ideal. Hal ini juga harus didukung tanggung jawab dan disiplin. Segala sesuatu yang dikerjakan dilaksanakan dengan teliti, rapi, lengkap, dilandasi dengan kecerdasan,akhlak mulia dan ketaqwaan. Dan untuk mencapai itu semua harus melewati tahapan dan memupuk potensi yang ada didalam diri.

A. SIKAP

Sikap adalah kecenderungan individu untuk bertingkah laku berdasarkan pengetahuan,perasaan dan kemauan. Baca lebih lanjut

Februari 2, 2011 Posted by | Ilmu Pendidikan | , , , , , , , | 2 Komentar